25.6 C
Jakarta
Rabu, 6 Juli 2022
spot_img

Angka Pernikahan Remaja di Tangsel Rendah

Doetanews.com, Ciputat—Pemerintah Kota Tangerang Selatan sangat mengedepankan pentingnya peran edukasi kesehatan reproduksi dan seks bagi kawula muda yang masih berusia remaja.

Berbagai upaya pun dikerahkan melalui beragam program berbeda yang dijalankan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) berbeda, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB), dan juga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Kepala DPMP3AKB Kota Tangsel Khairati menerangkan, upaya tersebut pun berdampak positif. Saat ini, Kota Tangsel terbilang menjadi wilayah yang memiliki angka pernikahan anak di bawah umur rendah.

Khairati menuturkan, angka tersebut terangkum secara resmi pada data pengajuan dispensasi perkawinan anak di bawah umur sepanjang 2021 di Pengadilan Agama Tigaraksa.

“Datanya tercatat, hanya ada 16 orang anak Tangsel usia 15-17 tahun yang mengajukan dispensasi perkawinan,” papar Khairati, saat dikonfirmasi, Selasa (01/03/2022).

Dia menerangkan, ada berbagai alasan dalam pengajuan tersebut. Salah satunya adalah faktor dorongan orangtua.

“Orangtua khawatir melanggar syariat karena anaknya sudah lama berpacaran,” terangnya.

Khairati menerangkan bahwa selain rendahnya angka pengajuan dispensasi perkawinan, edukasi bagi remaja yang dilakukan secara masif juga turut memengaruhi rendahnya angka hamil di luar nikah bagi para remaja di Tangsel.

“Jadi jika ada yang menyebut angkanya tinggi, itu tidak benar. Logikanya seperti ini, angka pengajuan dispensasi perkawinan itu hanya 16. Artinya, jikapun memang ada alasan karena kehamilan, berarti jumlahnya di bawah 16 itu,” jelas Khairati. “Itu pun jika memang ada alasan seperti itu.”

Khairati memaparkan, adapun sejumlah upaya yang dilakukan pihaknya meliputi sosialisasi hingga pembentukan berbagai wadah bagi edukasi.

“Sosialisasi pencegahan perkawinan usia anak kepada orangtua, jejaring PPA, anak-anak SMP dan SMA, lalu Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak, kemudian pembentukan Pusat Konseling Remaja (PKR) di SMA/SMK/MA, serta pembentukan Bina Keluarga Remaja (BKR) di tingkat kelurahan,” paparnya.

Sementara itu, hal serupa juga dilakukan Dinas Kesehatan. Adapun programnya meliputi penyuluhan kesehatan di sekolah, pengembangan program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di sekolah, serta pembentukan Posyandu Remaja.

Kemudian ada juga program konseling, edukasi dan pelayanan Keluarga Berencana (KB) di fasilitas kesehatan, konseling, informasi, dan edukasi (KIE) mengenai kesehatan reproduksi bekerja sama dengan KUA, pemeriksaan kesehatan pada calon pengantin, mengadakan pelayanan kehamilan dan persalinan sesuai standar di fasilitas kesehatan, serta pengobatan infeksi saluran reproduksi (ISR) dan penyakit menular seksual (PMS) di fasilitas kesehatan.

Kemudian, Kementerian Agama pun turut melakukan upaya serupa. Program-programnya meliputi pembinaan remaja dalam rangka pencegahan perkawinan usia anak, penyuluhan keluarga sakinah oleh penyuluh agama, serta memberikan materi pernikahan dalam pelajaran agama di SMA/SMK/MA oleh guru agama.

Terakhir, upaya yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melalui program pemberian pendidikan agama dan budi pekerti, lomba-lomba yang merangsang kreativitas anak secara positif, serta pendidikan pengasuhan anak untuk orangtua.

WARTA TERKAIT

WARTA IKLAN

- Advertisment -
Google search engine

WARTA TERKENAL